Hal yang paling mengganggu saya dalam Orang-Orang Bloomington datang dari tokoh-tokoh yang merasa berhak mengetahui hidup orang lain. Mereka memperhatikan tetangga, menilai kebiasaan orang asing, lalu menyusun kesimpulan dari potongan informasi yang mereka punya. Perhatian itu kadang tampak seperti kepedulian. Sedikit demi sedikit, ia berubah menjadi kecurigaan dan campur tangan.

Budi Darma menghimpun tujuh cerpen yang berlatarkan Bloomington, Indiana. Kota kecil itu mempertemukan para tokohnya melalui rumah sewaan, jalan, tempat kerja, atau hubungan bertetangga. Mereka berada cukup dekat untuk saling mengawasi, tetapi terlalu sibuk dengan prasangka sendiri untuk sungguh-sungguh mengenal satu sama lain.

Narator yang tidak memberi rasa aman

Pilihan sudut pandang orang pertama membuat kumpulan ini terasa sesak. Pembaca hanya dapat melihat sejauh yang dilihat tokoh “saya”, padahal tokoh itu kerap tidak jujur terhadap dirinya sendiri. Ia bisa mengaku ingin menolong sambil menikmati kelemahan orang lain. Ia merasa menjadi korban, kemudian memakai perasaan itu untuk membenarkan tindakan yang kejam.

Bagi saya, keputusan ini menjadi kekuatan utama buku. Narator biasanya memberi jalan masuk ke sebuah cerita. Di sini, jalan masuk itu tidak stabil. Setiap penilaian perlu dicurigai karena orang yang bercerita juga sedang melindungi harga dirinya.

Dalam “Laki-Laki Tua Tanpa Nama”, rasa ingin tahu terhadap seorang asing berkembang menjadi obsesi. “Keluarga M” memperlihatkan bagaimana dugaan kecil dapat membesar ketika seseorang lebih percaya pada kejengkelannya daripada kemungkinan bahwa ia keliru. “Joshua Karabish” membawa persoalan itu ke hubungan yang tampak lebih akrab. Kedekatan ternyata tidak otomatis melahirkan kemurahan hati.

Budi Darma tidak memberi pembaca satu tokoh yang dapat dijadikan pegangan moral. Saya menyukai pilihan ini karena ceritanya tidak sibuk menunjuk siapa yang baik. Ia menunjukkan proses ketika seseorang menciptakan alasan bagi perilakunya sendiri, lalu membiarkan pembaca menilai alasan tersebut.

Bloomington tanpa pesona kartu pos

Latar Amerika dalam buku ini tidak dipakai sebagai pajangan eksotis. Bloomington hadir sebagai lingkungan sehari-hari yang dingin: orang datang dan pergi, pintu tertutup, percakapan mudah berubah menjadi dugaan. Nama jalan atau kebiasaan setempat memberi bentuk pada kota, tetapi pusat ceritanya tetap watak manusia.

Karena itu, jarak budaya tidak terasa sebagai pokok persoalan. Kesepian para tokohnya mudah dikenali. Begitu pula dorongan untuk membandingkan diri, merasa tersisih, atau diam-diam senang ketika orang lain jatuh. Kota itu bisa jauh dari Indonesia, sedangkan rasa malu dan iri yang menggerakkan penghuninya terasa dekat.

Saya juga menangkap humor yang kering dalam beberapa keadaan yang serba tidak nyaman. Para tokoh menjalankan pikiran mereka dengan kesungguhan yang berlebihan sampai tingkahnya tampak ganjil. Kelucuan itu tidak menawarkan kelegaan penuh. Ia justru memperjelas betapa mudah manusia menganggap dirinya masuk akal.

Kemuraman yang kadang melelahkan

Kumpulan ini mempertahankan tekanan batin yang kuat dari satu cerita ke cerita berikutnya. Para narator mudah curiga. Hubungan antarmanusia berulang kali berakhir pada manipulasi atau kegagalan memahami orang lain. Pola itu menyatukan buku, tetapi juga membuat pembacaan terasa berat.

Pada beberapa bagian, saya menginginkan perubahan nada yang lebih jauh. Kemuraman yang terus dijaga dapat membuat kejutan emosional sebuah cerita berkurang karena pembaca sudah menunggu keburukan berikutnya. Namun, keberatan ini tidak menghapus daya ceritanya. Rasa lelah tersebut sesuai dengan dunia yang dibangun Budi Darma, sebuah lingkungan tempat kedekatan sering menambah masalah.

Kecurigaan terhadap kata peduli

Orang-Orang Bloomington membuat saya menimbang ulang alasan seseorang memperhatikan hidup orang lain. Kepedulian membutuhkan kesediaan untuk mengakui batas. Tokoh-tokoh dalam buku ini sering melewati batas itu karena mereka ingin merasa penting, benar, atau lebih bermoral.

Di situlah buku ini masih terasa tajam. Ancaman dalam hubungan sehari-hari tidak selalu datang dari orang yang terang-terangan membenci kita. Kadang ia datang dari orang yang yakin bahwa rasa ingin tahunya adalah bentuk perhatian. Budi Darma membiarkan keyakinan itu tumbuh sampai watak buruk di belakangnya tidak lagi dapat disembunyikan.